Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah dari laki-laki. Karena, saya tidak menyusu puting payudara Ibu. Saya mengisap penis Ayah.
“Saya di mata sebagian orang” bertutur
mengenai tokoh saya, seorang perempuan yang menjalani hidupnya jauh dari
norma-norma yang di bentuk masyarakat.
Sebagian orang menganggap saya munafik. Sabagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa. Sebagian lagi menganggap saya murahan!Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa murahan!Dan apa yang saya rasa toh tidak membuat mereka berhenti berpikir kalau saya munafik. Berhenti berpikir kalau saya pembual. Berhenti berpikir kalau saya sok gagah. Berhenti berpikir kalau saya sakit jiwa. Berhenti berpikir kalau saya murahan!Sementara saya sudah berusaha mati-matian menjelaskan kalau saya tidak munafik. Kalau saya tidak membual. Kalau saya tidak sok gagah. Kalau saya tidak sakit jiwa. Kalau saya tidak murahan!Tapi penjelasan saya malah semakin membuat mereka yakin kalau saya munafik. Yakin kalau saya pembual. Yakin kalau saya sok gagah. Yakin kalau saya sakit jiwa. Yakin kalau saya murahan!
Gaya bahasa Djenar memang berani, lugas,
gambalang, atau malah mungkin sebagian orang menganggap vulgar. Tapi
saya merasa setiap ceritanya meninggalkan pesan, kadang harus di baca
berkali-kali dulu sih baru bisa paham. Seperti “Saya di mata sebagian
orang”, bahwa hidup itu pilihan, ketika memilih kita akan dihadapkan
pada penilaian orang terhadap pilihan tersebut. Kadang benar atau salah
bisa sangat relatif, kadang membela diri tak diperlukan atas penilaian
orang lain yang tak sesuai dengan harapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar