Jangan main-main (dengan kelaminmu)
berkisah mengenai seorang suami, sahabat suami, selingkuhan suami, dan
seorang istri. Djenar membuat cerita ini dari empat sudut pandang
tokoh-tokoh tersebut. Seperti kalimat berikut ini yang dituturkan oleh
keempat sudut pandang tokoh-tokoh tersebut. Menarik bukan?
Saya heran, selama lima tahun kami menjalin hubungan, tidak sekali pun terlintas di kepala saya tentang pernikahan. Tapi jika dikatakan hubungan kami ini hanya main-main, apalagi hanya sebatas hasrat seksual, dengan tegas saya akan menolak. Saya sangat tahu aturan main. Bagi pria semapan saya, hanya dibutuhkan beberapa jam untuk main-main, mulai main mata hingga main kelamin. Bayangkan! Berapa banyak main-main yang bisa saya lakukan dalam lima tahun.
“Menyusu Ayah” dan “Saya di mata sebagian orang” adalah cerita favorit saya di buku ini.
“Menyusu Ayah” bercerita bagaimana
seorang bayi yang bercerita harus menyusu pada penis Ayahnya bukan pada
puting payudara Ibunya. Kisah yang sangat ironis. Saya jadi berpikir,
bisakah bayi mengingat semua yang terjadi dihidupnya kala itu. Maka jika
bisa, jangan main-main dengan ingatannya.
Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah dari laki-laki. Karena, saya tidak menyusu puting payudara Ibu. Saya mengisap penis Ayah.
“Saya di mata sebagian orang” bertutur
mengenai tokoh saya, seorang perempuan yang menjalani hidupnya jauh dari
norma-norma yang di bentuk masyarakat.
Sebagian orang menganggap saya munafik. Sabagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa. Sebagian lagi menganggap saya murahan!Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa murahan!Dan apa yang saya rasa toh tidak membuat mereka berhenti berpikir kalau saya munafik. Berhenti berpikir kalau saya pembual. Berhenti berpikir kalau saya sok gagah. Berhenti berpikir kalau saya sakit jiwa. Berhenti berpikir kalau saya murahan!Sementara saya sudah berusaha mati-matian menjelaskan kalau saya tidak munafik. Kalau saya tidak membual. Kalau saya tidak sok gagah. Kalau saya tidak sakit jiwa. Kalau saya tidak murahan!Tapi penjelasan saya malah semakin membuat mereka yakin kalau saya munafik. Yakin kalau saya pembual. Yakin kalau saya sok gagah. Yakin kalau saya sakit jiwa. Yakin kalau saya murahan!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar